Banyak orang baru merasakan kehadiranNya pada hal-hal yang menakjubkan dalam hidupnya, padahal Dia hadir dalam setiap momen hidup kita
Suatu hari, seorang ibu mengeluh ada sesuatu di matanya. Matanya seperti orang kelilipan sesuatu, gatal dan memerah. Gangguan itu terus berlangsung dari hari ke hari dan tidak pernah membaik walaupun sudah diobati dengan berbagai obat mata.
Maka ibu itu pun pergi ke dokter mata. Si dokter memeriksa dan mengambil kesimpulan kalau mata si ibu mengalami mata kering. Ini biasa terjadi pada orang yang sudah mengalami usia lanjut. Untuk mengurangi mata keringnya, maka dokter itu memberi obat tetes mata khusus yg harus ia pakai setiap sejam sekali. Kalau perlu setengah jam sekali, kata dokter itu.
Dan jadilah hari-hari si ibu ditemani dengan obat tetes matanya. Ibu ini orang yang cukup aktif. Walau sudah 60 tahun lebih, ia masih suka naik angkot ke sana kemari. Dan penyakitnya ini, walau tidak berbahaya, cukup mengganggunya. Ia harus tetap memakai obat tetes mata ini walau ia sedang d angkot, di pasar, maupun di acara kawinan.
Karena tidak ada perbaikan sama sekali, ia pun pindah ke dokter mata lain di rumah sakit spesialis mata.
Si dokter pun tidak bisa membantu banyak. Ia menerangkan hal yang sama dengan dokter sebelumnya. Bahkan dengan penegasan kalau penyakit ini tidak bisa disembuhkan.
"Apa yang menyebabkan mata kering ini dok?" tanya anak si ibu yang ikut mengantar ke dokter.
"Di mata itu ada kelenjar air mata. Kelenjar air mata itu mengandung banyak sekali unsur. Jika salah satu unsur tidak ada, ini yang bisa menyebabkan mata kering. Jadi mata kering ini bukan terjadi karena masa muda terlalu banyak menangis", terang si dokter. "Berkurangnya unsur air mata, bisa terjadi karena hormonal. Karena ibu sudah tua, hormonalnya jadi tidak sebagus dulu."
Dengan kata lain, obat mata itu memang harus seumur hidup dipakai si ibu.
Bertahun-tahun ia berobat bolak balik, agar matanya bisa lebih membaik, tapi hasilnya tetap nihil
Dalam kepasrahannya menerima keadaannya, ibu ini merasa bahwa mungkin inilah tanda-tanda kebutaannya. Penyakit ini pasti akan membuat matanya buta suatu hari nanti. Walau begitu diam-diam hatinya bersyukur bahwa hanya matanya yang sakit, seluruh anggota badannya masih berfungsi dengan baik.
Kemudian timbul niat itu. Niat untuk sebanyak-banyaknya membaca Al Qur'an sebelum ia buta. Sepanjang hidupnya, beliau bukan orang yang luar biasa dalam beribadah. Walaupun beliau tidak pernah meninggalkan sholat 5 waktunya dan rutin ikut pengajian, tapi membaca Qur"an adalah hal yang sudah lama tidak dilakukannya saat itu.
Dan ia pun mulai rutin melakukannya. Tiap pagi setiap selesai sholat dhuha, ia membaca Qur'an. Walau hanya sempat 1 halaman, ia tetap istiqomah.
Suatu hari saat ia harus kembali ke dokter untuk periksa mata, tiba-tiba si dokter terkejut.
"Oooooh ibu ini ternyata alergi dengan obat tetes ini. Obat ini yang membuat mata ibu jadi cepat infeksi", kata si dokter.
Entah darimana tiba-tiba si dokter bisa mengambil keputusan itu, padahal sudah 2 tahun si ibu bolak balik ke dokter yang sama.
"Coba saya ganti obat tetesnya ya bu", kata si dokter.
Benar saja... Penyakit itu hilang. Penyakit yang sudah divonis tidak bisa sembuh, hilang begitu saja setelah diganti obatnya.
Tapi buat si ibu, bukan obat atau si dokter yang menyembuhkan. Allah yang menyembuhkannya.
Dengan mudah, jika Ia berkehendak, maka hal yang mustahil menjadi bisa
Dan ibu itu adalah ibuku...
La hawla wa la quwwata illa bilahil aliyil adzim
Tak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah